Skip to main content

cerpen lama pos baru

Kehidupan di Kota Metropolis
(Ainun Masyrifah)

Pantaskah hamba bertanya,”siapa hamba?” mungkin banyak bertanya, makin lama dua jawaban tiba ,makin ku tunggu makin jenuh makin ku impikan  malah makin menghadirkan jutaan peluh. Mungkin hamba bagaikan seonggok sampah amat bau,jorok dan menjijikkan yang mengembara tersebar berserakan ditengah udara yang kotor terombang ambing tanpa tujuan, bersamanya tenggelam bersama jutaan buih yang menumpuk berjamaah bersama buih-buih yang lain. Hingga terkadang rasa muak pun tak tertahan, dihantam oleh hujan yang lebat hingga aromanya semerbak membuat semua orang lari menjauh

Mungkin inilah hidup yang ku alami saat ini. Dianggap manusia rendah dimatanya karena hidup tak punya tujuan dan arah yang pasti, di tengah kerasnya kehidupan membuat diriku semakin tak punya tujuan hidup. Dengan hanya bermodalkan kesungguhan, cita-cita, anggapan dan harapan yang suci, tapi malah di anggap murahan, di anggap remeh karena hanya bermodal kesungguhan, cita-cita, anggapan dan harapan saja. Mungkin mereka mengira dengan adanya zaman yang semakin maju seperti ini hanya bermodal seperti itu, itu bukan modal untuk orang-orang zaman sekarang. Memang hanya ini yang di andalkan dari anak desa sepertiku yang tinggal di daerah terpencil dan informasi yang sangat kurang, dengan keadaan yang seperti ini aku mulai mempunyai inisiatif untuk merantau demi mengapai cita-citaku dan hanya mendapat do’a dari keluarga, dan uang secukupnya.
Sudah beberapa tahun ini aku hidup di kota metropolis (jakarta) yang seraba semua aktifitasnya gemerlapan, menyihir jutaan mata terlena dalam sebuah samudra kemaksiatan bahkan kemiskinan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menutup mulut untuk mengatakan kata-kata yang pantas di ucapkan. Menutup telinga,menutup mata seakan tak ingin melihat kehidupan, memborgol tangan sekedar hanya untuk melakukan aktifitas dan untuk menyentuh sesuatau yang bermanfaat.
Kasurku yang semakin tipis terasa semakin pipih karena terus ditindas punggungku selama berahun-tanun lamanya. Duniaku rasanya menciut hanya menjadi sepotong kasur dan langitku hanyalah seplafon kamar. Sempit dan muram. Ingin rasanya lari dan membebaskan diri dari kerumunan yang mencekik ini. Tapi setiap kepal semangatku seperti telah habis disedot malangnya kehidupan.

Bagaimana aku akan terus mengejar cita-citaku untuk menyelesaikan kuliah? Disamping kehidupan ekonomi keluargaku semakin mengekang, saat ini aku sudah kuliah semester 4 sedangkan ke-2 adikku yang dirumah juga masih sekolah dan memerlukan biaya yang sangat banyak. Uang kuliah belum mampu aku bayar, biaya hidup dan kos pun tidak punya. Semenjak sepeninggalan ayahku, kini aku mulai merasakan bagaimana susahnya kedua orang tuaku membiayai kebutuhanku dan adik-adikku, apa lagi sekarang tinggal amak seorang, uuuuggg.... betapa pilunya kehidupan. Sedangkan aku di sini sangat membutuhkan banyak sekali biaya, apa yang harus aku lakukan?, satu-satunya cara yaitu aku bekerja untuk membiayai kuliahku. Pekerjaan apapun telah aku lakukan dari pedagang  minyak wangi keliling sampai obat-obatan dengan sistem door to door ,demi untuk membiayai kuliah,uang kos dan uang harianku. Karena memang sudah ada tekad yang kuat dalam hati tak akan bisa terelakkan walaupun keadaannya seperti apapun.
Matahari mulai naik menyilaukan mata, saat ini sudah jam enam pagi, mungkin sudah saatnya kami anak kos untuk segera mengantri kamar mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah. Terlihat semua kawan-kawanku telah antri berebut kamar mandi di dua kamar mandi yang terbuat dari papan yang hanya satu meter persegi dan tingginya hanya lima meter dan air yang sekedarnya saja. Setidaknya bisa memenuhi kebutuhan kami bersuci dangan nyaman. Selesai mandi kami pun kembali ke kamar kami masing-masing mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah.
”ayo-ayo berangat kuliah udah siang nih...” ajak seto kepada kami. Seto ialah teman seperjuanganku di berasal dari medan dia adalah satu-satunya teman yang sering aku pinjami uang untuk membiayai kehidupanku sambil menunggu kiriman dari rumah, “ia to, kamu berangkat dulu ya..” balasku. Jam menunjukkan pukul 06.30 aku mulai bergegas berangkat kuliah. Begitulah aktifitasku sehari-hari dalam kuliah, seusai kuliah aku mulai bekerja. Aku bekerja dari jam 14.00-18.00 wib seusainya aku pergunakan waktuku untuk mengerjakan tugas dan lain-lain, kegiatan seperti itu aku lakukan hingga masa kuliahku habis.
Waktu berlalu begitu saja tanpa salam menjauh dari masa lalu.Langkahnya begitu halus, hanya meninggalkan setitik jejak yang begitu kecil hingga terkadang lupa untuk dikenang. Putaran rotasi bumi berulang kali menenggelamkan sang mentari yang menghapus semua kenangan.
Satu bulan telah berlalu setelah aku lulus kuliah, aku mulai bingung mau mencari kerja dimana?.Aku mulai mencari-cari informasi lowongan pekerjaan dan selalu berdo’a kepada sang pencipta lalu meminta do’a dari amak yang ada di desa, karena aku telah berjanji tidak akan pulang kerumah sebelum menjadi orang yang sukses, suatu hari ada orang yang menawarkan pekerjaan kepada ku yaitu sebagai karyawan disebuah perusahaan sewaktu aku usai sholat dzuhur di masjid agung.
“Assalamualaikum” sesosok manusia setengah baya mendekatiku.
“Waalaikum salam” jawabku. Dalam hatiku berkata siapa sebenarnya Bapak ini.
“Siapa namamu nak?” ,”nama Saya Anam Pak, memangnya ada apa ya Pak?” jawabku.
“ Sebelum saya bertanya panjang lebar perkenalkan nama Bapak Rohmat Hidayat. Begini nak, saya ini sedang bingung mau mencari seorang karyawan di perusahaan saya karena kemarin saya baru memecat karyawan saya yang sering tidak berangkat bekerja. Nah sekarang saya mau nanya kepada kamu Nak Anam, kamu lulusan apa ? ” tanya Pak Rohmat.
“Alhamdulillah saya lulusan S1 akuntansi.”
“Nah, kalau begitu cocok dengan pekerjaan karyawan saya, bagaimana kamu mau bekerja di perusahaan saya? ” tanya pak rohmat dengan penuh harap.
“Insya allah saya siap pak”.”Baiklah kalau begitu, sekarang kamu ikut saya ke perusahaan saya agar kamu tahu lokasinya dan bekerjanya di bagian apa. ”
Aku dan Pak Rohmat pun beranjak keluar dari masjid dan menuju parkir kendaraan, lalu kami menghampiri mobil hitam bermerek BMW yang mengkilap dan kami menaiki mobil tersebut berdua. Subhanallah menaiki mobil semewah ini. Joknya sangat empuk dan ber-AC. Pak Rohmat yang sedang mengendarai mobilnya dengan penuh hati-hati dan aku yang duduk di sampingnya. Di perjalanan sempat terjadi perbincangan antara aku dan pak rohmat sekilas bertanya tentang kehidupanku. Setelah beliau bertanya mengenai kehidupanku, beliau giliran yang bercerita mengenai kehidupannya dulu sebelum menjadi seorang pengusaha sukses beliau berusaha mulai dari nol hingga menjadi seorang pengusaha yang sukses. Cerita beliau mengingatkan pada kehidupanku saat ini yang membuat motivasi bagiku. Beliau berkata “ jika Allah sudah menghendaki, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.”
Kami pun mulai memasuki sebuah kompleks perusahaan yang sangat megah.Perlahan mobil melaju dan berhenti di sebuah gedung bertingkat. Saat klakson mobil di bunyikan ada dua orang sekuriti yang membukakan pintu mobil Pak Rohmat. Kami pun turun dari mobil, seketika itu juga penghormatan diberikan kepada kami oleh para karyawan perusahaan. Lalu saya dibawa oleh Pak Rohmat ke lantai dua yaitu tempat saya bekerja nantinya disana saya disambut oleh para karyawan-karyawan yang lain.
                  “Nah Anam ini ruangan kamu bekerja nanti, bagaimana kamu suka dengan ruangan ini? .”
“Alhamdulillah, insya Allah saya senang dengan ruangan ini pak, megah ber AC yang selama ini saya belum pernah merasakan.”
            Terdengar suara menggelidik di kupingku ternyata para karyawan yang tadi menyambutku tertawa kecil sambil tersenyum, mungkin mereka aneh dengan pembicaraan saya yang seperti ini seperti orang ndeso, wajarlah kalau saya berkata seperti ini lawong selama saya hidup, saya belum pernah merasakan di ruangan AC batinku.
            “Baiklah kalau begitu Anam, sekarang kamu kenalan dulu kepada para karyawan-karyawan yang ada diruangan ini mereka nantinya adalah kawan kamu ketika kamu” ujar Pak Rohmat,mengheningkan ruangan.
“Baiklah kawan-kawan,  Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh perkenalkan Nama saya Anam Irwansyah, saya tinggal di lampung. Ada yang perlu di tanyakan dari perkanalan saya ini dan salam kenal dari saya?”
            “Salam kenal dari kami” jawab mereka serempak.
            Kemudian mereka saling memperkenalkan nama mereka masing-masing kepadaku, ada dua orang karyawan yang membuatku tertarik ia bernama Salma dan Irwan mereka membuat aku senang berkenalan dengan mereka karena mereka akrab dan ramah, mereka juga yang nantinya akan menjadi teman ku satu ruangan ketika aku bekerja. Setelah perkenalan tersebut aku di ajak oleh Pak Rohmat ke rumahnya untuk sholat maghrib sekaligus makan malam bersama.
            Sesampainya di rumah Pak Rohmat kami di sambut oleh dua orang anak mereka adalah anak Pak Rohmat.
            “Nah ini dia rumah Bapak Nak Anam, ya rumah ini hanya untuk berteduh keluarga bapak sementara waktu.”
            “Sementara waktu ! memangnya Bapak mau pindah, ini saja rumahnya sudah sangat megah menurut saya Pak?”.
            “Sebenarnya rumah ini hanyalah pemberian yang sementara untuk Bapak dan keluarga, karena harta didunia adalah titipan, bukannya begitu?”.
            “Benar Pak”.
            Kami pun mulai memasuki rumah dan dua anaknya Pak Rohmat menyambut kami di ruang tamu dengan salam dan langsung menyambar tangan kami.
            “Assalamualaikum Papa ” serentak mereka berkata.
“Waalaikum salam” jawab kami.
“Ayah, Ayah ini siapa?” kata salah seorang dari mereka yaitu Salsa.
“Ini Kak Anam”
“Kak Anam, memang Kak Anam siapa kita?” tanya salah seorang lagi dia adalah Dinda, dengan nada yang masih terbata-bata seperti masih belajar berbicara wajar Dinda masih berumur 3 Tahun.
“Kak Anam itu karyawan Papa” jawab Pak Rohmat.
“Ya sudah ayo kita masuk, terus sholat berjama’ah terus kita makan malam bersama”
“Asyik.........” kata Salsa dan Dinda.
“Wajar ya Nak Anam, mereka itu masih kecil-kecil belum tahu apa-apa ” senyum Pak Rohmat.
“Iya pak”
Kami pun segera masuk keruangan belakang ternyata didalam sudah ada yang menunggu beliau adalah isteri Pak Rohmat. Beliau langsung menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk sholat bersama. Seusai sholat magrib bersama kami di persilahkan untuk makan malam bersama di ruang dapur, disana sudah tersedi hidangan yang sangat banyak sekali. Subhanallah koyo surgo hatiku berkata seperti itu melihat sangking banyaknya hidangan yang tersedia di meja makan, sambil berjalan menuju dapur aku  nengok kanan kiri ternyata aku melihat sesuatu yang tak kalah pentingnya lagi ternyata aku melihat ada taman di dalam rumah Pak Rohmat. Subhanallah alangkah megahnya rumah ini. Lamunanku terusik ketika pak  rohmat menyuruhku makan.
“Nak Anam ayo makan.”
“i.... ya Pak” .Astaghfirullah hal adzim, ternyata aku tadi ngalamun alias dlomblong.
Akhirnya kami pun makan bersama, sebelum makan ada tradisi dari Pak Rohmat yang sering beliau lakukan yaitu do’a bersama yang di pimpin oleh beliau sendiri dan di amini oleh aku dan keluarganya Pak Rohmat. Setelah selesai makan tibalah waktu isya’ Pak Rohmat beserta keluarganya dan aku melaksanakan sholat isya’ berjama’ah usai sholat isya’ aku di ajak jalan-jalan keliling rumah oleh Pak Rohmat beserta ke dua anaknya dan isteri tercinta namanya Ibu Sarah, terutama aku di ajak ke  tempat yang terdapat tamannya tadi, ternyata tempat itu adalah ruangan santai bagi sanak saudara atau pun keluarga dan juga tempat rekan-rekan Pak Rohmat untuk rapat apabila jenuh rapat di kantor . Tiba-tiba Jam sudah menunjukkan pukul 08:30 wib aku minta izin pamit kepada Pak Rohmat untuk pulang karena sudah malam, tapi Pak Rohmat menghalangiku untuk pulang kerumah sendiri beliau ingin mengantarku ke rumah.
“Ma’af Pak, sepertinya waktu saya untuk bertamu sudah cukup sekiranya saya minta izin pulang”
“Eeee... begini Nak Nam ini kan sudah malam bagaimana bila Bapak saja yang mengantar kamu pulang?”.
“Iya betul itu Pak, karena ini sudah malam kalau pulang jam segini rawan” timpal isteri Pak Rohmat.
“Bagaimana Nak setujukan kalau Bapak antar kamu? sekalian bapak ingin melihat rumah kamu.”
“Tidak usah repot-repot Pak, biar saya pulang sendiri saja, saya sudah terlalu merepotkan Bapak” aku mengelak tawaran Pak Rohmat.
Tiba-tiba suara Handphone Pak Rohmat berdering sepertinya beliau mendapat telpon dari seseorang, Pak Rohmat segera menerima panggilan tersebut ternyata anak beliau yang ada di australia mau pulang ke indonesia sudah gak mau pulang lagi ke indonesia lawong sudah sampai di indonesia malahan( sudah di perjalanan ) menuju rumah. Alhamdulillah kalau begitu aku bisa pulang sendiri, jadinya kan gak ngerepotin Pak Rohmat. Usai Pak Rohmat menerima telpon, aku di ajaknya kaluar lalu aku disuruhnya masuk mobil bersamanya.
“Nak Anam ayo Bapak antar pulang, oh ya Bu jangan lupa nanti kalau Raisya datang bilangin Papa masih keluar sebentar” sambil menggandeng tangan ku keluar rumah lalu masuk mobil. Pak Rohmat mulai mengendarai mobilnya keluar gerbang rumahnya yang megah.
Di tengah perjalanan aku berkata kepada Pak Rohmat “Pak, sekiranya Bapak tidak seperti ini pada saya, karena saya ini bukan tamu terhormat saya ini hanyalah calon karyawan Bapak, saya tidak pantas diseperti inikan.”
“Huuuus kamu tidak boleh berkata seperti itu, karena kamu adalah tamu. Jadi tamu itu haruslah di agungkan sebagaimana seorang Raja atau Ratu”.
Mandengar jawaban Pak Rohmat aku terdiam membisu seribu bahasa. Dalam hatiku berkata alangkah mulianya hati Pak Rohmat. Sudah satu jam kami di dalam mobil tibalah kami di kompleks perumahan melati yang selama beberapa tahun ini aku tinggal di sana.

“Nak Anam ini belok kemana?.”
“Eeee disini saja Pak, masalahnya gangnya terlalu kecil apabila mobil masuk.”
Mobil Pak Rohmat berhenti aku pun turun dari mobil, sebelum turun aku pamit dengan Pak Rohmat. Terlebih Pak Rohmat mengharapkan kedatangan ku esok hari di perusahaannya jam 07:30 sudah berada di tempat. Lalu Pak Rohmat meminta nomor Hp ku seusainya beliau pulang kerumahnya, dan aku pulang ke kos-an ku. Untuk melepas lelah aku membuka pintu rumah yang tak begitu besar lalu aku berwudhu membersihkan diriku dan aku tidur yang beralaskan kasur yang sudah mulai menipis.
Apa itu malam? Kadang aku bertanya, “mengapa Allah menciptakan malam? Mengapa pula Allah tidak hanya ciptakan siang yang terang benderang, penuh keriangan?” Entahlah apa yang sedang ku rasakan sebenarnya harus aku sadari bahwa itu semua kekuasaannya Allah. Kedatangan malam telah mengusir semua kelelahan, kebisingan, ketenangan dan kesegeran bagi jasad dan batin yang lelah seharian beraktifitas.
Ehmmmmmm itulah malam yang meninabobokan aku dan mendongengkan cita-citaku di kota metropolis ini. Kini aku larut dalam genggamannya seakan jasad ini terbang melayang di angkasa menunggu sampai fajar tiba. Seakan menjanjikan terkabulnya impianku esok hari, ketika aku bangun dari tidurku. Namun siapakah yang mampu menjamin, roh itu masih bersama jasadku, menyongsong mentari keluar dari persembunyiannya esok pagi? Terkadang, aku takut roh itu menceraikan jasadnya saat mulai lemah pada dinginnya malam, memeluk erat guling yang penuh dengan dosa yang belum sempat aku tobati. Tak kusangka, rintik air mata jatuh bercucur dari mataku berharap semoga itu dapat menyucikan dosa dari dalam hatiku ini.
Perhatianku lalu terhentak,sepintas terdengar suara deru mesin motor, menggeram ingin merusak keharmonisan malam ini. Meraung-raung tanpa irama, berusaha merusak ketenanganku. Ia menjerit-jerit seakan membuat gendang telingaku, terkadang merintih seakan hatiku. Namun, bersama semilirnya angin malam, semuanya lenyap, ibarat debu yang ditebarkan badai, menjauh dariku. Malam semakin berlarut aktivitas seluruh makhluk telah berhenti. Hanya beberapa jiwa yang masih setia meniti tugasnya menemani udara, mengalir dan berembus, menyihir jutaan telinga manusia dalam selimut keheningan . berderik bersahut-sahut bak berbalas seperti pantun.
            “Krik..... krik..........kriiiik....”, alarm sang alarm berbunyi. Suara jangkrik itu begitu keras, terus bertambah keras mengusikkan dalam tidurku . serasa ada yang engusap rambutku dan berkata “bangun..... bangun woyyyy  shalat tahajud dulu woooyyy booooos udah lupa ye sama allah, banguuun. Mentang-mentang deh udah dapet kerja terus lupa cama Allah ya...” lirik begitu jelas kudengar. Suara itu mulai terdengar, “wooooy bos rika’ ra tangi-tangi yak awas loh dicabut eko kerjaanne. Wudu booooossss!”.
            Mulutku rapat sulit untuk bergerak. Cuma hati yang yang bisa berkata “siapa sih?” kucoba membuka mata tapi kok ya terasa kelet seperti di kasih lem. Kasur yang tipis, guling yang sudah kempet plus bantal yang udah bekas tambalan sisa-sisa kain karena ada yang jebol dan aku jahit dengan kain-kain perca tersebut menjadi tentara-tentara setan mengikatku agar aku tidak bangun merayuku dan malaikat yang mendorongku untuk bangun seakan setan dan malaikat sedang bertempur, akhirnya ada dialog diantara kami berenam.
            “Tidurlah, malam masih panjang”, ujar setan.
            “Tiiiiiidak pokek, eee pokoknya aku harus bangun allah sudah memanggilku perantara malaikat”, kubantah setan semampuku.
            “Itu bukan Allah,ayoooo bos rasakne bae bantal yang emmmmpuek,guling,dan kasurmu booos”
            “Uuuh setan gemblong, kyak... kyak... kayak”, aku membantah mereka dengan tiju-tinjuku diudara.
            “Booos inget, besok iku bos mau kerja apalagi bos baru pertama kali lagi biar tambah fit bos tidur aja biar kalo bangun pagi segerrrr... berrrrr. Hehehehe, ”
            “Tiiidak aku lebih cinta allah di banding diriku sendiri”.
            “Ya... sudah bos, tunggu beberapa menit lagi.”
            “Jangan kau pikir kau bisa mengelabuhiku setan, setan kau sungguh kejammmm, kau ingin membuatku terlena dalam tidurku kan? Dan kau ingin aku tidak ibadah kepada Allah ya kan?”
            “Bukan begitu booooos. Baiklah kalau begitu hitunglah  satu sampai lima ! lalu kau bangun karena kau tak bisa aku gooooda” dengan nadanya yang begitu seeerak.
            “Baiklah pergi kau, ku hitung satu, dua, tiga, empat, liiiima, heeezzzt.”
            Tiba-tiba terdengar suara teriakan “bangun Nam, anakku Amak disini selalu mendo’a kanmu ayo bangun Nak. ”
            “Astaghfirullah, Amak”, aku terbangun, kaget mendengar ada suara Amak yang membangunkanku.
            “ Ya... Allah, Aku telah terlena oleh makhluk halus. ”
            Kulihat tak ada seorang pun yang berada di dekatku, mungkinkah itu suara Malaikat yang berusaha membangunkanku? Jam dinding yang berada di atas dinding yang catnya sudah mulai memudar menunjukkan pukul 03:00. Menyesal rasanya menuruti hawa nafsuku, Aku baru sadar semanis apapun lidah setan bersilat, yang ada hanyalah kebohongan belaka. Aku segera bangun dari tempat tidurku langsung mengambil wudu di belakang kos-kosanku.
            “Subhanallah sungguh keagungannya Allah, langitnya terang sekali ditaburi dengan bintang-bintang yang membuat indah pemandangan dilangit membuat yang memandangnya akan selalu memuji kekuasaan Allah”.
            Aku mulai memutar keran yang berada di tempat wudu aku pun wudu dengan penuh kehati-hatian, seusai wudu aku masuk ke rumah menarik sajadah yang berada di atas meja lalu berniat untuk sholat tahajud. Usai sholat tahajud aku mulai berdo’a kepada Allah.
            “Ya allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, engkau maha segala-galanya bagiku kau yang menjadikan semua yang ada di langit dan dibumi. Ya allah tiada ucapan kata yang membuat aku senang aku sangat bersyukur karena engkau telah memberikan aku pekerjaan yang layak dan mudah-mudahan engkau membuat keadaan perekonomianku lebih baik, aaamiiin.”
            Tiba-tiba aku teringat dengan Amak dirumah, aku menyambar handphone yang berada di atas kasurku, mulai mencari-cari nomor Amak.
            “Aduh mana sih nomor Amak”.
            “Yaaak ini dia, mudah mudahan Amak belum bangun nah kalau aku sms Amak mudah-mudahan Amak bisa bangun”
            Aku mulai mengeti pesan untuk Amak ”Assalamualaikum, Amak ini Anam bagaimana kabar Amak , Adik Riska dan Adin. Alhamdulillah  Anam disini sehat, Mak Anam ada kabar gembira buat Amak, Anam udah diterima kerja di perusahaan insya’ allah Anam besok sudah mulai berangkat kerja, do’a dari  Amak selalu membuat anak senang dan insya’Allah Anam bulan depan bisa kirim uang buat Anam” , mungkin cukup sekian penyampaian kabar Anam Mak, Anam mengharapkan Amak bisa membalas sama Anam wasalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh. Pesan untuk Amak sudah terkirim. Huuuuh ,astaghfirullah ngantuknya aku segera menarik selimut kembali dan membenarkan posisi tidurku, tiba-tiba terdengar  suara Hp ku bunyi sepertinya ada pesan aku berharap pesan itu dari Amak, dan ternyata iya aku mencoba membuka pesan dari Amak “Waalaikum salam, alhamdulillah semua keluarga disini sehat wal afiat. Semoga sukses dengan pekerjaanmu dan mudah-mudahan Allah membarakahinya, ananda disana tak usah memikirkan mengirimi Amak, yang terpenting ananda disana kebutuhannya bisa tercukupi.”
            Tanganku mulai bergerak membalas sms “aaamiiinn, ya Mak”. Pesan terkirim. Heeeeezzzt aku mulai terelap dalam tidurku hingga adzan subuh membangunkanku. Aku dengan bermalas-malasan bangun dari tempat tidurku menuju kamar mandi untuk bersuci sekaligus wudu setelahnya aku menunaikan sholat subuh berjama’ah di musholah dekat dengan kos-kosanku. Usai sholat subuh Aku dan teman-teman kos lari-lari pagi sambil menunggu fajar menyingsing.
            “Reno, yok kita joging dulu biar sehat” ujarku.
            “Joging, ayok lah kita ajak yang lain yok kayak si deni dan kawan-kawan.”
            “Boleh, yok keburu siang.”
            “Ok! Den joging yok! Ajakin yang lain.”
            “ok!”
            Asyiknya menunggu fajar sambil joging bareng-bareng dengan teman-teman sekos. Karena sudah merasa capek kami pun kembali ke kos masing-masing mempersiapkan diri untuk melakukan aktivitas masing-masing.
            “Eeeh gua cabut dulu ya bro, Alhamdulillah sih gua udah diterima kerja jadi gua harus siap-siap, gua duluan ya?”, sengaja aku memakai bahasa umumnya anak-anak jakarta biar mereka tidak terlalu kaku menanggapi perkataanku karena selama ini aku baru bisa bahasa gaul walaupun sudah sekian tahun aku tinggal di kota metropolis ini.
            “ya bro, jangan lupa ya kalo gajian lo tlakir kami?” ujar mereka yeng menanggapi perkataanku.
            “Insya’ Allah bro, do’ain ya? ”.
            Aku segera bergegas menuju kamar mandi lalu mandi dan berpakaian rapi sabagaimana seorang pekerja kantoran. Jam menunjukkan pukul 06:45 Aku segera makan di warung depan kos ku karena Aku belum sempat memasak pagi ini. Usainya aku segera mencari angkot dan berangkat ke kantor. Sesampainya Aku di kantor disambut oleh beberapa karyawan dan Aku di sambut oleh Salma dan Irwan lalu mereka berdua mengajakkumenuju keruangan yang akan aku tempat bekerja dan mereka mengajariku tentang pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku sudah mulai mengenal apa yang harus aku kerjakan sebagaimana jabatan yang diberikan Pak Rohmat kepadaku, ternyata tak terasa Aku sudah bekerja selama dua bulan. Bulan ini adalah bulan yang sangat berbeda sudah dua bulan ini aku pindah kos-kosan, aku kini tinggal di perumahan kompleks cenderawasih yang dekat dengan kantor tempat Aku bekerja, Aku tinggal bersama dengan Irwan, sahabatku bekerja kenapa aku pindah ngekos?, karena Aku ingin kerja tepat waktu dan jarak tempuhnya juga agar tidak terlalu jauh.
            Kring...... kring.... kring... suara Hp ku berbunyi yang mencoba mengusik istirahatku siang ini. Ternyata telpon itu dari Pak Rohmat segera Aku angkat.
            “Assalamualaikum Pak, ada apa ya Pak?.”
            “Waalaikum salam Nak Anam, maaf Bapak mengganggu tidur siangmu. Bapak ingin bertemu denganmu siang ini kamu bisa tidak?” harap Pak Rohmat.
            “Insya’ Allah saya siap Pak, saya segera berangkat”.
            “Ya sudah kalau begitu, Bapak tunggu di ruangan Bapak ya?”.
            “Ya Pak”.
            Aku segera menutup telpon dari Pak Rohmat dan langsung bergegas menuju kantor dengan pakaian rapih yang sudah bersetrika celana hitam mengkilap dan sepatu hitam pemberian almarhum Ayahanda. Saat ini pasti aku sudah membuat Pak Rohmat kecewa karena aku terlalu lama membuat beliau menunggu karena memang keadaanku baru bangun tidur dan aku harus membersihkan muka agar tampak bersih di hadapan beliau.
            Sebelumnya pernah kudengar selentingan para karyawan membicarakan bahwa dalam waktu dekat ini Pak Rohmat akan pergi ke luar negeri memimpin  cabang perusahaannya sendiri. Mungkin beliau mau berpamitan dengan ku karena akukan bekerja siff pagi sekaligus mengumumkan seseorang yang akan menggantikan kedudukannya di indonesia. Hanya satu do’aku untuk beliau, semoga beliau memilih pengganti yang baik, adil, dan mementingkan perkara akhirot/agama.
            Aku berusaha mengejar waktu karena mungkinsaat ini semua karyawan telah siap di meja meeting karena waktu mulai berputarcepat sekali Aku tidak ingin mengecewakan beliau. Sesampainya aku didepan pintu parkir dan langsung hendak turun di pintu karyawan , kulihat ada kakek-kakek buta  dengan membawa tongkat kakek itu menengadahkan tangannya seraya meminta sesuatu kepada seseorang, tapi tak seorangpun yang memberinya. Kakek itu meminta belas kasihan pada beberapa mobil yang terparkir di depan kantor, dua tiga mobil telah ia lewati tak seorangpun memberinya sesuatu, astaghfirullah dalam hatiku berkata “bagaimana jika mereka di ibaratkan keadaan kakektersebut bagaimana penderitaan yang mereka rasakan saat ini, hampa tak bisa melihat indahnya kehidupan dunia yang mungkin akan dirasakan hanyalah kegelapa yang mereka rasakan.” Ku lihat dari kejauhan ada satu mobil sedan hitam yang berhenti lajunya dan membuka kaca mobil. Terlihat tangan lentik yang mengulurkan tangannya memberi selembar uang kertas lima puluh ribu rupiah kepada Kakek tersebut. Terdengar kakek itu mendo’akan Nona dengan suara yang lirih “mudah-mudahan Nona mendapatkan jodoh yang saleh” Nona itu pun mengamininya. Lalu Nona itu mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran, dalam hatiku berkata subhanallah alangkah mulianya Nona itu.
            Tidak berapa lama, terdengar percekcokan di area parkir mobil. Kuputuskan untuk menghampirinya sebentar, baru kemudian aku masuk pintu karyawan. Ternyata tak lain dan tak bukan yaitu Nona yang mengendarai mobil sedan hitanm tadi yang terlibat percekcokan itu dengan salah seorang petugas parkir.
“ Maaf Non, ada apa ya?” tanyaku pada nona tersebut yang sedang marah.
“Coba lo liat mobil gue lecet, rusak berat nih gara-gara Abang tukang parkir itu yang gak bisa mengaba-abakan ,” ujar gadis itu.
“Bukan saya Pak, melainkan Nona ini yang salah dengar aba-aba saya” elak tukang parkir itu.
“Eh elo itu gmana sih Bang, udah tau abang yang salah malah nuduh saya lagi.”
“Maaf Non, kok bahasanya seperti berbicara dengan teman sebaya?, tidak baik berbicara dengan orang yang lebih tua dengan bahasa seperti itu” sindirku.
“Loh kok jadi gue yang di salahin, udah jelas-jelas di yang salah ” tegas gadis tersebut.
“Ya sudah, biar saya saja yang mengganti kerusakannya” jawabku.
“Gak usah, kalau cuman ganti rugi gue juga punya duit kok. Yang gue butuhin itu cuman pengakuan aja kalau Abang tukang parkir itu salah, kalau dia kagak ngaku liat aja gue laporin sama pimpinannya biar di pecet.”
“Jangan Non, dia itu hanya tukang parkir, kalau di pecet beliau mau mendapat pekerjaan dan menghidupi keluarganya dengan apa?” berusaha memahamkan kepada gadis tersebut.
“Iya Non, saya ngaku salah tapi tolong jangan laporkan ini semua kepada pimpinan saya Non?” harap Abang tukang parkir biasa disebut Pak Jono.
“Ya, sudah Pak minta maaf saja ! Minta maaf tidak salamanya lebih hina bisa jadi orang yang memberi maaf justeru yang bersalah.”
“Baiklah Non, saya ngaku salah. Saya minya maaf.”
            “Nah, gitu donk, kan urusannya gak panjang gini jadinya.”
            Setelah kejadian tersebut, Aku ajak Pak Jono menjauh dari perempuan tersebut dan menanyakan apakah benar bahwa beliau telah mengaba-aba dengan benar, ternyata memang Pak Jono telah mengaba-aba dengan benar.
            “Apakah benar Bapak tadi mengaba-aba dengan benar?.”
            “Demi Allah Nam, Bapak mengaba-aba dengan benar.”
            “Ya sudah kalau begitu, lain kali supaya lebih hati-hati lagi dan ini pak ada sedikit rizki untuk Bapak dan Anak-anak Bapak” sambil mengeluarkan uang lima puluh ribu rupiah dari kantongku.
            “Tidak usah repot-repot Nam, Bapak sudah sangat bersyukur kamu sudah membantu bapak.”
            “Ayolah Pak, Bapak tidak boleh menolak rizki dari Allah,”tuturku merayunya.
            Kuhampiri Nona itu lalu Nona itu melontarkan perkataan “heh emangnya gue suka apa dengan gaya elo itu, yang menolog orang yang memang benar-benar bersalah.”
            “Nona, saya juga tidak habis pikir bahwa ternyata Nona yang saya jumpai tadi memberi selembar uang kertas kepada kakek ternyata dibalik itu Nona orangnya angkuh.”
            Akhirnya perempuan itu memalingkan mukanya darihadapanku dan aku segera berlari menuju ruangan Pak Rohmat, ternyata disana Aku telah ditunggu banyak orang. Ternyata bener dilantai dua tepatnya ruang rapat bagi para anggota kantor sedang mengadakan meeting menunggu kedatanganku. Sambil terengah-engah aku langsung duduk di samping Irwan, yang pada saat itu Pak Rohmat sedang menyampaikan sambutan. Aku bingung ,saat tiba-tiba datanglah gadis yang tadikutemui diparkiran tiba-tiba memeluk Pak Rohmat yang sedang duduk memberikan sedikit sambutan yang akan usai kepada kami, lalu beliau mempersilahkan gadis tersebut untuk duduk di samping beliau sambil beliau meneruskan pembicaraannya mengenai rencana beliau akan pergi keluar negri dan terpaksa harus meninggalkan kami. Mulailah berkecamuakan hatiku ” siapa sebenarnya gadis ini.”
            Sambil meneruskan pembicaraannya.
            “Baiklah, kedua orang yang sedang kita tunggu-tunggu telah hadir. Sekarang saatnya saya harus memberikan mandat saya sebagai pimpinan perusahaan ini kepada orang yang mmemang benar-banar saya percaya sebelumnya dan dia memang benar-benar cocok menurut saya dan para karyawan sangat setuju apabila orang tersebut memimpin perusahaan ini yaitu.... Anam Irwansyah dan ini adalah putri saya yang baru menyelesaikan studinya S-2 di Australia yaitu Raisya Nur Bayti dan dia juga akan memimpi perusahaan ini bersama Anam, mari Nak perkenalkan dirimu ” pinta Pak Rohmat kepada putrinya.
            “Baiklah perkenalkan nama saya Raisya Nur Bayti, insya’ Allah saya yang akan menggantikan kepemimpinan Ayah saya dan saya minta kepada para rekan-rekan untuk membibbing saya dalam bekerja. Terima kasih.”
            “Nah itu tadi informasi yang pertama dari Saya, lalu informasi yang ke dua adalah bahwa perusahaan kita sebagai contoh oleh perusahaan-perusahaan lain, jadi saya minta kepada kalian semua untuk bekerja sama membuat perusahaan ini terus maju walaupun tidak sepengawasan saya, terimakasih mungkinitu saja yang mungkin dapat saya sampaikan. Mungkin ini sudah sore jadi sebelum saya tutup meeting pada sore hari ini saya minta kepada Nak Anam untuk memimpin do’a sekaligus kita berjabat tangan bersama.Usai sudah saya mendo’akan diacara meeting dan kami saling bersalaman kami langsung bubar masing-masing.
            Saat waktunya pulang aku hendak sholat asar dan menunggu buka puasa aku hendak makan di rumah makan di kantor,  kebetulan pada saat iru hari kamis seperti biasa aku melakukan puasa senin kamis, adzan pun di kumandangkan ku lihat saku celanaku ternyata hanya ada selembar uang dua puluh ribu rupiah rupanya tak cukup untuk membayar makanan di kantin terpaksa aku harus pulang dan aku makan dirumah. Aku baru sadar ternyata uangku tadi sudah aku sodakohkan kepadak Pak Jono, aku tersenyum malu.
            Diatas tangga terdengar tiga orang berjalan menuruni tangga. Mereka melihatku sedang tersenyum mengibar-ngibarkan uang dua puluh rubu rupiah yang ada di kantongku. Mereka pun tersenyum. Ternyata mereka adalah Pak Rohmat, Raisya, Dan Pak Ikhsan dia adalah menejer perusahaan yang terpercaya.
            Pak Rohmat mengerti bahwa aku sedang tak punya uang jadi beliau mengajakku makan direstoran dan kebetulan Pak Rohmat, Pak Ikhsan dan Aku sedang menunaikan ibadah puasa.
            “Nam ! buka puasa bersama yuk,” ajakan Pak Rohmat mengagetkanku.
            “Astaghfirullah hal adzim, eee,, tidak usah Pak saya sedang ada acara jadi saya tidak bisa mendatangi permintaan Bapak.”
            “Sudahlah kamu ini selalu saja, ayo” ajak Pak Ikhsan.
            “Ya sudah ayo !, kita makan di lestoran langganan Bapak ya, nanti insya’ Allah Bapak yang tlaktir deh” ajak Pak Rohmat. Sambil kami berjalan menuju mobil untuk berangkat ke lestoran langganan Pak Rohmat ,beliau memperkenalkan Raisya denganku.
            Non Raisya berusaha menjabat tanganku, tapi Aku menekuk tanganku lalu mengucapkan”perkenalkan nama saya Anam Irwansyah, panggil saja Anam.”
            “oooh Anam, nama Saya Raisya,  oooo jadi ini yang Ayah sering ceritain sama Ratu, eeeem Pah aku pulang dulu ya!” sambil dengan muka jutek ia menjawab perkenalanku lalu ia pamit dengan ayahnya.
            “ Raisya, dia itu bukan mahrommu jadi, Nak Anam mengulurkan tangannya .Ya sudah, hati-hati di jalan ya!.”
            Kami pun segera memasuki mobil BMW milik Pak Rohmat lalu menuju restoran, sesampainya di sana kami burbuka dengan makanan yang tersedia, setelah selesai kami segera menunaikan shalat maghrib berjama’ah di masjid terdekat. Usainya Pak Ikhsan pulang dengan mengendari mobil sedannya, sedangkan Aku diantar Pak Rohmat sampai didepan kos-sosanku dan Pak Rohmat pamit langsung pulang tidak bisa bertamu ke kos-kosanku, aku memakluminya.
Setelah Raisya sampai dirumahnya di langsung menemui Ibunya dan dia langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Raisya langsung mengambil wudu dan sholat maghrib lalu seusainya sholat dia langsung mengambil diarynya dan menuliskan kejadian hari ini yang dia alami, seperti biasa ia lakukan setiap hari.
Salam diary ku Assalamualaikum:“ Hari ini adalah hari yang membuat aku jengkel banget, udah ketemu sama tukang parkir yang gak mau ngaku kesalahannya. Eeeh tiba-tiba ada pahlawan kesiangandateng ngampirin sok-sok nolong lagi, tak taunya dia itu karyawan papa yang diangkat sebagai pimpinan di kantor papa. Bete’ banget pokoknya hari ini, tapi semenjak aku berkenalan dengan laki-laki itu aku mulai berubah cara bicaraku karena dia bilang “Non ,gak  sopan bicara dengan orang tua itu pakek bahasa gue-gue elo-elo.” Ternyata ia juaga laki-laki yang seringan papa ceritain sama Aku, dia bernama ANAM IRWANSYAH  Lumayan sih orangnya, cakep dan dia berkepribadian baik soleh lagi pantes kalo papa sukanya cerita dia melulu. Kok tiba-tiba aku jadi pengen kenal lebih jauh ya.....” udah dulu inilah cerita hari ini tentangku, wassalamualaikum.
Allahuakbar... allahuakbar, adzan isya’ berkumandang terdengar suara ketukan pintu Ibu Ratu mengetuk pintu kamar Raisy  ktuk... ktuk....
“Raisya... shalat isya’ dulu nak lalu makan malam bersama, mama tunggu di bawah.”
“Iya ma, ma Raisya mau mandi dulu terus baru shalat masalahnya Raisya tadi pulangnya sore dari kantor.”
“Ya udah kalau kayak gitu berarti nanti mama sama papa sholat dulu ya!”
“Ya ma!”
Isteri Pak Rohmat pun segera menunaikan shalat isya’ berjama’ah bersama Pak Rohmat dan dua adik Raisya. Usai shalat berjama’ah Bu Sarah, ingat kalau anak tercintanya Raisya belum makan dan tadi izinnya mau mandi baru sholat beliau pun naik kelantai atas mengetuk pintu Raisya.  ktuk..... ktuk.... ternyata setelah tidak ada jawaban dari Raisya Bu Sarah langsung masuk kamar Raisya, ternyata Raisya sedang tidur pulas selesai mandi dan menunaikan sholat isya’ di kasurnya dan dia sedang berposisi memegang diarynya, tak sengaja Bu Sarah membaca diary yang ditulis anaknya hari ini. Setelah membacanya ia sangat terharu karena anaknya kini telah berubah dalam cara berkatanya itu semua berkat perantara Anam. Usai membacadiary anaknya beliau langsung menemui suaminya yang berada di meja makan dan mengatakan kepada suaminya bahwa Raisya telah berubah perantara Anam dalam segi bicaranya dan beliau mengatakan bahwa Raisya tertarik dengan Anam.
“Pa, Mama mau cerita sama Papa.”
“memangnya mau cerita apa?, loh mana Raisya katanya mau makan?.” Tanya Pak Rohmat.
“Raisya sudah tidur Pa, mamah tuh tadi gak sengaja buka diary Raisya kalau, Raisya itu udah berubah cara bicaranya lantaran berkat Nak Anam dan Raisya sepertinya tertarik dengan Nak Anam pa!” cerita Bu Sarah.
“Alhamdulillah kalau begitu, bagaimana ma, mama setuju tidak kalau seandainya Nak Anam itu jadi mantu kita?” tanya pak Rohmat kepada isterinya.
“Kalau mama sangat setuju sekali, melihat kepribadian Nak Anam itu sungguh allah memberikan sesuatu yang berbeda dengan Laki-laki lain yang mana zaman sekarang jarang pa, mama jumpai laki-laki seperti itu.”
“Ya sudah kalau begitu, kita tunggu beberapa bulan berhubung papa besok sudah ke singapur tolong mama kontrol Raisya ,Dinda dan Salsa. Dan Papa pesan sama Mama suruh Nak Anam mengajari Raisya tentang kepemimpinan, oh ya Ma kitakan mau cari guru ngaji dimana ya ma kita nyarinya?.”
“Ya sudah loh pa, insya’ allah Nak Anam bisa mengajari Dinda, dan Salsa.”
“Bagus juga itu ma,ide bagus untuk melihat pendekatan mereka, tapi jangan salah niat kita tetap niat karena agar anak-anak kita bisa engaji.”
Waktu malam terus larut di tengah heningnya dunia. Keadaan semua makhluk seakan menikmati malam yang sunyi, tak ada satu makhluk pun yang mengusik keadaan malam ini, kecuali memang ada makhluk yang Allah  ciptakan dia itu untuk menikmati kehidupannya pada malam hari ini. Aku terlarut dengan keadaan tersebut, sehingga malamku untuk mermunajat kepada Allah hampir habis untung saja ada desiran angin yang meniupkan alam semesta ini sehingga yang ada di dalamnya terkena angin tersebut dan suara klontengan drum yang terkena hantaman angin membangunkanku.
“Dredungggg dung, trenteng... teng.” Suara drum yang terkena angin bedcampur pasir yang berada di samping kos-kosan/ rumah saya.
“Suara apa itu?” Aku terbangun kaget.
“Astaghfirullah, terima kasih engkau telah membangunkanku perantara suara drum itu.”
Ternyata sudah pukul 03:00, waktuku untuk bemunajat telah tiba walaupun sedikit berkurang mungkin aku kelelahan kemarin. Aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan langsung berwudu. He...... bergetar bibirku saat menyentuh air yang ada di keran wudu yang berada di dalam ruangan kosku. Sekarang tempat wudu dan mandi kos-kosan ku dan kawan-kawanku berada di dalam. Aku segera menunaikan sholat tahajut kepada allah lalu seusainya seperti biasa aku berdo’a kepada Allah terutama Aku mengucapkan syukur karena kemarin Aku di berikan Mandat sebagai pimpinan perusahaan menggantikan Pak Rohmat.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat bagaikan bak sepeda yang berputar ketika di kendarai pengemudinya, apabila pengemudinya mengemudi dengan cepat maka roda itu akan berputar dengan cepat begitu juga sebaliknya. Aku ternyata sudah lima bulan menggantikan posisi Pak Rohmat, begitu juga aku sudah lama mengajar ngaji keluarga Pak Rohmat yang ditinggal beliau keluar negeri. Ternyata Anak-anak Pak Rohmat sudah menunjukkan kedekatannya kepadaku mereka mengangngap bahwa Aku adalah kakaknya , sedangkan Raisya kini dia mulai menunjukkan penampilan yang berbeda lantaran dia juga ikut mengaji bersama adik-adiknya selain mengaji yang ku ajarkan pada mereka, mereka juga aku ajari menutup aurot yang baik bagi perempuan kebetulan yang ku ajar semua perempuan ,  kini dia semakin anggun dalam berbusana, pakaian yang ia kenakan sudah mulai sopan lan menutup aurot dan juga cara bicaranya sudah sopan melainkan juga dia berparas cantik semakin bertambah cantik.  Subhanallah sungguh menarik hati bagi orang yang memandangnya. Sore itu aku mulai berangkat menuju rumah Raisya dan keluarganya tinggal seperti biasa...... aku mengajar ngaji si Dinda, Salsa dan tak kalah pentingnya Non Raisya. Jam ditanganku menunjukkan pukul 15:30. Sedangkan aku masih di perjalanan. Awan yang tadinya cerah berubah menjadi mendung gelap gulita.
“Waduh.... gawat ini kok kayaknya mau ujan sih, macet lagi. Masya’Allah” keluhku.
Setelah sepuluh menit kemudian, jalanan lancar kembali, aku segera tancap gas motor yang baru beberapa bulan aku beli dari deler honda yang bermerek BEAT. Sepuluh menit berlalu begitu saja, akhirya aku sampai didepan pitu gerbang rumah Ratu. Tin.... tin... tin... suara klakson motorku membuat pak satpam kaget.
“ohhhh alah den-den, monggo masuk sudah di tunggu Non Raisya didalem,” ujar Pak Seno, sambil membukakan gerbang.
“terima kasih Pak”.
Aku segera menuju pelataran rumah Raisya. Ternyata dia dan Adik-adiknya sudah menungguku di ruang tamu. Merasa sangat bersalah aku pun malu-malu mau masuk, aduh masuk, enggak, masuk, enggak.... hi...h astaghfirullah ayo masuk Nam hatiku berkata.
“Mas Anam ayo masuk ,” ujar Raisya. Suara halusnya mengagetkanku dan membuatku gugup karena penampilannya hari ini berbeda tak seperti biasa, huuuh dag dig dug rasanya, ada apa ini sebenarnya.
“Eeeh iya sebentar.”
Aku mulai melangkahkan kakiku masuk menuju rumah Raisya.
Aku mulai mengatur nafas “assalamualaikum...”
“Waalaikum salam, jawab Salsa, Dinda.”
“Kak, kok telat sih...?, ayo kak masuk, silahkan duduk.” Tanya salsa.
“Tadi jalannya macet jadi lama deh... heheh gak papa kan?.”
“Gak papa kok kak ayokak kita ngaji.” Ajak Dinda.
Aku mulai membuka pengajian kecil sore itu bersama kedua bidadari kecil dan melanjutkannya hingga usailah pengajian kecil kami. Medan dakwah telah berubah,panasnya suasana semakin mendinginkan hati setiap penghuninya, tiba-tiba Raisya datang membawa senampak teh dan kue yang ia buat dengan hasil buah tangannya menuju kami.
“Assalamualaikum semua, tara ini dia ada teh dan kue. Nih.. kuenya dimakan ya!.”
“Wa’alaikum salam, kami menjawab serentak.”
“Salsa, Dinda gimana coba syukurnya sama kak Raisya?” aku mencoba mengetes mereka berdua.
“Syukron kak Raisya, kakak cantik deh heheheh.” Jawab mereka sambil tertawa.
“Na’am, ayo dimakan kuenya” ujar Raisya sambil memalingkan badannya yang tinggi semampai berjilbab besar itu sekejap mata langsung pergi menghilang dari hadapan kami.
Tiba-tiba hujan mengguyur wilayah jakarta pada osre itu, jam sudah menunjukkan pukul 18:00 adzan  maghrib sudah dikumandangkan, tak baik bila aku memaksakan diri untuk pulang sedangkan keadaan disana sedang hujan lebat tapi memang saya harus segera pulang karena aku gak enak kalau berlama-lama berada di rumah Pak Rohmat. Aku meminta izin pulang tapi dihalang- halangi .
“Bu saya mau pamit pulang sepertinya hujan sudah mulai reda”
“sholat dulu Nak Anam lalu kita makan malam bersama lalu kalau memang hujan di pastikan telah berhenti barulah Nak Anam boleh pulang.”
“Iya kak nanti kalau kakak sakit siapa yang mau mengajari kami ngaji?.”ujar Salsa.
Suara lembut yang keluar dari bibir Salsa membuatku ingin menangis rasanya, karena memang mereka masih sangat memerlukan ilmu yang aku sampaikan.
Setelah kami menunaikan shalat maghrib berjama’ah kami makan malam bersama di meja makan. Setelah selesai makan tiba-tiba mataku tertuju kepada sesosok yang menurutku selama ini membuat aku tak bisa menjaga denyut jantungku yaitu Raisya dan aku larut dalam lamunanku, tak kusangka dia juga melihatku alangkah malunya aku ketahuan kalau aku lagi memperhatikannya.
“Mas, mas Anam, kenapa kok ngalamun?.”
“Ha?, engngngak kok.” Sebenernya malu banget karena aku ngalamun ngelihatin dia.
“Hem.., Nak Anam umurnya berapa sekarang?.” Pertanyaan yang terlontarkan dari bibir Bu Sarah membuat suasana yang tegang mulai hilang.
“Umur saya masih 24 tahun Bu” sambil malu-malu aku menjawab.
“24 tahun, sepertinya umurnya sudah cocok kalau seumpama mempunyai pendamping hidup.”
Aku tersenyum, dan pertanyaan Bu Sarah membuat aku jadi salah tingkah. Raisya yang duduk berada di samping Ibunya juga ikut tersenyum hingga terlihat lesung pipitnya menambah aura wajah yang cantik . Usai makan malam bersama aku langsung pamit kepada keluarga besar Bu Sarah.
“Bu Anam mau pamit karena hari sudah malam.”
“Ya sudah Nak , hati-hati ya.”
“Iya bu.”
Aku segera bergegas menuju ke halaman rumah dan mengendarai motor baruku keluar menuju pintu gerbang dan langsung gesit menuju kediamanku. Huuuuh rasanya malu aku aku melihat wajah cantik Raisya.
Beberapa hari ini aku tidak mengajar di rumah keluarga Pak Rohmat , karena aku sedang pulang kampung merawat Amak yang sedang sakit. Setelah beberapa hari aku didesa aku mendapat telpon dari Ratu kriiing..... tringggg kulihat nomernya ternyata nomer baru dan langsung ku angkat telpon tersebut.
“Assalamualaikum.” Suara halus dari seberang sepertinya aku kenal.
“Waalaikum salam, ini siapa ?.”
“Ini Raisya mas, sekarang mas dimana kok gak pernah ngajar ngaji lagi. Padahal kami sekeluarga merindukan mas?.”
“Iya Raiya, mas juga lupa mau mengabari Raisya dan keluarga, tapi mas sudah izin sama Bapak untuk berlibur sebentar karena menunggu Mak sedang sakit dan mas juga baru kemarin sore mengabari Bapak mungkin juga bapak belum memberi tahu Raisya ya?.” Hati ini terasa dag-dig dug kayak mau pecah rasanya setelah mendengar suara Raisya.
“Iya mas Papa belum bilang sama Aku, ya sudah kalau begitu mudah-mudahan Ibu mas cepat sembuh dan mas bisa ngajar ngaji lagi dan bisa kerja kembali seperti biasanya, ya sudah mas kalau bagitu assalamualaikum.”
“Amiiinn, waalaikum salam.”
 Fajar telah menyingsing, pagi yang cerah ini memberikan semua keadaan bagai banyak harapan. Rencana hari ini Pak Rohmat dan keluarganya akan menjenguk Aku dan Amak yang sedang sakit, sekaligus ingin bersilaturahmi dengan keluargaku yang berada di lampung. Katanya sih Raisya sudah ingin sekali bertemu dengan Amak yang begitu mulia telah melahirkanku. Matahari semakin tinggi menunjukkan hari sudah siang, hari itu cuaca sangat panas sekali. Aku yang baru saja melaksanakan sholat dzuhur dari masjid melihat mobil BMW yang terparkir di depan rumahku, sepertinya aku mengenalnya. Ternyata mobil itu milik Pak Rohmat, beliau sudah lima belas menit berada di dalam rumah keluargaku beliau disambut oleh kedua adikku dan Amak yang pada saat itu keadaan Amak sudah mulai membaik. Aku yang baru saja sampai dari masjid langsung uluk salam kepada beliau dan keluarga.
“Assalamualaikum, Pak Rohmat.” aku kaget karena tak kusangka beliau sampai di rumahku beserta keluarganya, tak kalah penting lagi ada Raisya yang sedang duduk di samping Amak yang sedang memijit Amak. Kulihat ia bercerita, bahkan sampai meminta izin untuk tidur di pangkuan Amak dan Amak juga nyaman dengan apa yang dilakukannya. Hatiku merintih bahagia meneteskan air mata melihat keakrapannya dengan Amak. Seakan aku membayangkan mertua dan menantu yang sedang menikmati kebahagiaan mereka. Subhanallah, entah kenapa serasa kami pada saat itu barada dalam keluarga yang baru saja menikmati kebahagiaan karena usai diadakan hajatan besar, kami saling bercanda ria hingga tak di sangka kami larut hingga jam menunjukkan pukul 15:30 adzan sholat asar di kumandangkan kami semua langsung bergegas menuju masjid bersama dan menunaikan sholat berjama’ah. Sueusainya Pak Rohmat ingin pamit pulang dan sebelum beliau dan keluarganya pulang beliau berkumpul di ruang tamu beserta keluarganya dan keluargaku, beliau mengatakan maksud dan tujuan beliau datang ke rumahku. Beliau bermaksud untuk menanyakan kepadaku, apakah aku mau menjadi pendamping hidup Raisya, selama ini Raiya memendam rasa kepadaku. Sebelum aku menjawab pertanyaan Pak Rohmat aku meminta izin terlebih dahulu kepada Amak dan Adik-adikku, apakah mereka setuju apabila aku menikah dengan Raisya?. Amak dan Adik-adikku menjawab setuju, aku pun menjawab dengan senang hati “ Saya bersedia menjadi pendamping Raisya Pak.”
“Alhamdulillah,” ternyata setelah pertemuan Ku dengan Raisya di kediamanku membuatku dan dia melabuhkan cinta dengan adanya AKAD PERNIKAHAN. Akhirnya kami hidup dengan bahtera rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah.

Selesai

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perhatikan jenis makanan bayi umur 6 bulan yang wajib di hindari

Bunda mungkin sering banget khawatir sama si kecil kalau lagi sendirian atau bahkan takut makanan yang di berikan untuk si kecil gak boleh dimakan di usianya , kalia ini mimin mau bahas makanan yang tidak boleh di berikan untuk bayi di usia 6 bulan bahkan di bawah 6 bulan , berikut makanan nya : "Baca juga obat alami atasi batuk berdahak si kecil" Susu sapi (6 bulan sampai 1 tahun) , sering banget buat bunda yang sibuk atau asinya gak keluar maka si kecil diberi susu formula , padahal yang harusnya bunda ketahui kudu jaga kesehatan jaga pola makan dan yang pasti makan-makanan yang bisa membuat asi bunda banyak produksinya sehingga tidak kehasbisan asi saat si kecil akan minum susu. Madu, sangat disarankan jangan memberi madu untuk anak dibawah 1 tahun sampai 1 tahun Garam (makanya kalau waktu MPASI) boleh pakai garam , asal jangan melebihi kadarnya <1 gr /hari - umur 1 tahun Makanan , maksudya disini jangan memberikan makanan seperti permen  lalu jelly , selalai yang...

ta'aruf

Ku Ingat Memori Ta’aruf Santri Pramuka Kwartir Cabang Tulang Bawang Barat (Karya:Ainun Masyrifah) Matahari telah bergeser, tetapi panasnya belum berkurang. Sementara awan putih yang menghalangi untuk meredupkan cahayanya sudah jauh meninggalkannya. Seolah bercerai karena sebuah keegoisan semata.Namun,apa daya,matahari tetaplah matahari yang selalu bersinar dengan keperkasaannya. Dan awan tetaplah awan yang hanya terbang mengambang dan pasti akan hilang menjadi hujan atau embuan di pucuk-pucuk kembang dan dedaunan. Pagi menjelang siang itu entah perasaan apa yang ada di dalam diriku, meneteskan embuan segar merembas dalam dasar sanubariku.Bersama detakan jantung, sang nafas menjadi tasbih mengamini do’a hati yang penuh pengharapan, agar Allah berkenan mengabulkan do’aku. Usai mandi dan sholat duhur,suasana masjid terlihat lengang. Hanya beberapa orang saja yang masih terduduk di masjid untuk bertadarus dan sholat sunnah ,di saat itu hanya ada aku dan lia yang terlihat, sedangka...