Ku Ingat Memori Ta’aruf Santri
Pramuka Kwartir Cabang
Tulang Bawang Barat
(Karya:Ainun
Masyrifah)
Matahari telah bergeser, tetapi panasnya belum berkurang.
Sementara awan putih yang menghalangi untuk meredupkan cahayanya sudah jauh
meninggalkannya. Seolah bercerai karena sebuah keegoisan semata.Namun,apa
daya,matahari tetaplah matahari yang selalu bersinar dengan keperkasaannya. Dan
awan tetaplah awan yang hanya terbang mengambang dan pasti akan hilang menjadi
hujan atau embuan di pucuk-pucuk kembang dan dedaunan.
Pagi menjelang siang itu entah perasaan apa yang ada di
dalam diriku, meneteskan embuan segar merembas dalam dasar sanubariku.Bersama
detakan jantung, sang nafas menjadi tasbih mengamini do’a hati yang penuh
pengharapan, agar Allah berkenan mengabulkan do’aku. Usai mandi dan sholat
duhur,suasana masjid terlihat lengang. Hanya beberapa orang saja yang masih
terduduk di masjid untuk bertadarus dan sholat sunnah ,di saat itu hanya ada
aku dan lia yang terlihat, sedangkan kawan-kawan telah pergi meninggalkan
masjid dan menuju rumah masing-masing sedangkan kawan-kawan pondok pergi ke
ruang dapur untuk makan siang.
Tak lama, semuanya lenyap kembali dalam kesibukannya
masing-masing.Aku dan lia akhirnya keluar dari masjid dan pulang kepondok. Di
tengah perjalanan kami, ada segerombolan orang yang berada dikantor melambaikan
tangan ke arah ku dan lia,tiba-tiba kami berhenti mendadak dan kami saling
berpandang-pandangan dengan wajah bingung ,alqur’an yang kujinjing di tangan
merosot hampir jatuh yang akhirnya memecah kebingungan di antara kami
“Eeeh untung gak jatuh alqur’an ku”ucapku.
”Kak,,
kayaknya kita dipanggil deh ke
kantor?”ucap lia.
”Sepertinya sih ia dek, aduh gimana ya…,eh sepertinya
disana ada pak Lezin. Apa jangan-jangan kita disuruh ikut pramuka?, soalnya pak
Aan kemaren itu bilang kalau kita dapat undangan dari MUI untuk kemah dan pak Lezin
itu kan wakil ketua MUI” ucapku penuh Tanya.
“Ooh iya, bisa
jadi tuh kak, ya sudah kalau begitu kita kesana yuk!”.
”Ya sudah
kalau begitu
kita kembalikan dulu perlengkapan solat kita, setelah itu kita ke kantor ok!”.
Setelah mengembalikan perlengkapan solat, kami pun menuju
kantor dengan penuh perasaan tanya dalam hati menuju tempat segerombolan orang
sedang sibuk membicarakan sesuatu. Dalam hatiku berkata, apabila aku ditunjuk
untuk mewakili kemah nanti alangkah senangnya hatiku, kini apa yang ku harapkan
beberapa hari ini terwujud dan apabila tidak ….. “innalilahi wainnailaihi
roji’un”. Sesampainya di kantor kami pun dipersilahkan masuk. Kami berdua mengucapkan
salam”assalamualaikum”, ”wa’alaikum salam”ucap pak lezin dan segerombolan orang
yang tadi melambaikan tangan ke arahku dan juga lia, ternyata mereka adalah
kawan-kawan pondok yang juga di panggil
pak lezin, tidak hanya mereka bahkan ada kak agus dan kak pendi.
”Silahkan duduk”kata pak lezin.
Kami pun duduk diantara kawan-kawan pondok , hatiku
rasanya dag-dig dug serasa di panggil karena ada suatu permasalahan.
”Eheem begini ceritanya kenapa kalian semua saya panggil,
karena kita mendapat undangan untuk kemah di panaragan tepatnya di pondok
al-furqon, saya disini memanggil kalian semua untuk mewakili pondok as-salam
kemah, kalian semua siap atau tidak?”ucap pak Lezin denga lantang . Mendengar
ucapan beliau aku merasa tambah dag-dig-dug, tapi dalam hatiku yang paling
dalam..... aku senang karena aku diikut
sertakan dalam kemah pramuka .
”Insya allah kami siap pak!”jawab ku
dengan tegas.
”Nah begitu jawabnya…,kalau kalian tidak siap,
pondok ini di bubarkan saja!, ya sudah
kalau begitu bagaimana kalau kita bentuk ketua di setiap regu untuk putra dan
putrinya”ucap pak lezin .
Tak
lama kemudian ada suara yang menjawab pernyataan pak lezin dengan suara yang serak-serak basah
yaitu kak agus.
”Saya setuju dengan pendapat pak Lezin,kalau begitu saya
usul untuk ketua putrinya kak Mega
sedangkan ketua putranya kak Ikwan,karena saya disini sebagai Pembina jadi saya
wajib memberikan usulan.Bagaimana yang lain setuju atau tidak?” .
Mendengar ucapan yang demikian teman-temanku mengiakan
usulan kak Agus,karena mereka memang senang kalau aku yang menjadi ketua
regunya begitu juga dengan kak ikhwan,oh iya kak Ikhwan itu akrab di sebut
dengan panggilan kak Iwan, hah rasanya….. kok ya kak Iwan jadi ketua putranya, pas banget fens ku
(padahal ya gak juga sih….. hehehe), jadinya enak deh kalau komunikasi jadi lebih akrab.
Kak Agus pun melanjutkan ucapannya“kalau begitu karena
sudah dibentuk ketuanya, saya serahkan kepada ketuanya masing-masing, untuk
menyiapkan apa saja yang akan dibawa saat kemah nanti, jangan lupa juga
latiahan baris-berbaris dan untuk pentas seninya. Mega mengerti!, Iwan mengerti!
Kerena waktu kita tinggal 4 hari lagi. Sekarangkan masih hari minggu jadi buat
kita untuk mempersiapkan segala keperluan kita. Tugas ketua tolong di
koordinasi teman-temannya, mengerti!”.
“Mengerti kak” jawab kami berdua.Akhirnya kami semua
pulang setelah mendengarkan
intruksi/pengarahan dari kak agus dan juga pak Lezin.
Siang ini tak seperti biasanya, sengatan matahari begitu terasa
menembus atap ruang kamar, tiupan hawa panas yang teramat sangat ,merasuk
kedalam ruangan,dan memaksa cucuran keringat mengalir tiada henti. Kipas angin ruang
kamar telah dinyalakan, tetapi panas itu
mengusir kesejukan yang dihembuskan oleh kipas-kipas besar yang berputar
kencang ,menghadirkan rasa gerah yang membuncah. Ingin rasanya aku buka balutan
baju yang menutupi badanku dan segera berendam ke kamar mandi.
Suara bising kendaraanpun seolah berteriak mengusik lebih
kasar dari biasanya, menerbangkan debu-debu jalanan menyesakkan aliran napasku.
Ditambah suara teman-teman yang berisik, merusak ketenangan siang itu, suara teman-teman
sangat mengganggu istirahat siangku.Berkali-kali ku singkirkan perasaan amarah
akibat suara itu, makin ku coba menyingkirkannya malah makin timbul amarah
dalam diriku membuat hatiku gelisah tak karuan.Sesungguhnya aku terpikirkan
oleh amanah yang diberikan kak agus kepadaku, lalu apa yang harus aku lakukan
demi membawa nama baik pondok ini?, semoga dengan segala cara yang akan aku dan
kak Ikhwan lakukan bersama teman-teman saat pramuka esok akan membawa nama baik bagi pondok ini amin.
Empat hari telah berlalu tepatnya hari kamis, dari
perjuanganku mempersiapkan segala kelengkapan untuk pramuka .Tak sanggup
rasanya menunggu hari keberangkatan. Perlengkapan untuk
masak, karnaval, pensi,
perlengkapan pramuka seperti bambu dan
lain sebagainya telah siap untuk dibawa esok jum’at. Brum-brum….. seperti suara motor
komandan Lezin , komandan Lezi adalah
sebutan akrab pak Lezin. Menghampiri kami yang sedang mempersiapkan segala
perlengkapan kami, tiba-tiba pak komandan datang menghampiri kami.
“Assalamualaikum…..”.
“Waalaikum salam “jawab kami .
“Gimana perlengkapannya sudah tersedia semua….”.
Aku yang sedari tadi sibuk membereskan perlengkapan
memasak mencoba menjawab pertanyaan pak komandan.
“Eee sudah pak komandan, insya allah sudah siap semua”
“Ya sudah kalau begitu yang terpenting
kalian jaga kondisi dan jangan lupa besok sebelum berangkat kita semua foto
bersama ok!..... untuk dokumentasi
laporan”.
“Siap… pak komandan”.
Kak
Eka menimpal jawaban “boleh ngeksis dong
pak…?”.
“Ngeksis-ngeksis…..,eee
ya boleh lah “.
“Hehe...saya kira tidak boleh pak”.
“Boleh lah”.
Komandan Lezin pun beranjak pulang kerumah dan kami segera
membereskan perlengkapan kemah kami. Tak sanggup lagi kumenahan rasa ingin
kemah, setelah aku shalat isya’ aku langsung pulang dan merenung semalam sambil
berkemas-kemas apa yang belum aku masukkan kedalam ranselku. Berlalunya waktu
membawa kedalam kesunyian malam, aku pun tertidur lelap menikmati malam yang
sunyi. Waktu berlalu begitu saja tanpa salam menjauh dari masa lalu.Waktu adzan
subuh membangunkanku untuk beranjak ke kamar mandi dan menunaikan shalat subuh,
mentari terus menjulang tak terasa kami segera berangkat, tak lupa pak komandan
menyuruh kami berfoto bersama. Huh rasnya jantungku memompa darah dengan cepat akhirnya
timbul rasa berdebar-debar di hati ternyata aku foto di bawah kak Iwan…… hah
rasanya seneng banget . Setelah foto, kami semua berangkat menuju pondok
al-furqon, setibanya disana aku terheran-heran ternyata kami berkemah di pondok
al-furqon yang mayoritas semua siswa-siswinya menggunakan bahasa arab dan
inggris dalam kesehariannya. Aku terheran - heran dengan mereka ,yang meherankan
lagi siswa-siswinya ganteng-ganteng dan cantik-cantik .
Satu hari telah kami lalui bersama, kami merasakan
sesuatu yang berbeda. Ta’aruf antara pondok pesantren as-salam dan kawan-kawan
pondok dan sekolah MA terjalin diantara kami. Dalam mata lensa berwarna hitam terpotret
oleh sebuah kenangan hari ini yaitu hari sabtu yang cerah tepatnya pukul 09:30
wib , kami semua menikmati permainan rakyat yang kini hilang yang larut dengan
perkembangan zaman yang diadakan oleh kakak-kakak Pembina yaitu, permainan
bentengan, gobak sodor, susun balok, penjinak bom, patel lele, dan paralon air.
Kebetulan kelompokku main bentengan, kami beranggota 5 orang yaitu, Aku
sendiri, Luluk, Mafa, Khoir, dan Beti. Sebelumnya kami belum mengenal satu sama
lain, tetapi dengen ta’aruf kami dapat saling mengenal satu sama lain.
“Eeeh kawan-kawan aku belum kenal nih sama kalian kenalan
dong…, ada pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang….,” perkenalkan
namaku Mega Anjarsari akrab di panggil Mega, aku dari ponpes as-salam”.
“ Baiklah perkenalkan aku Luluk Mutoharoh, panggilanku
Luluk. Aku dari ponpes al-furqon”.
“Wah….. dari alfurqon?, dikelompok ini yang dari alfurqon berapa
orang?”.
“
2 orang,Wafa
dan Aku. Sedangkan Beti dari MHM, kalau Khoir
dari darul ulum”.
“Baiklah,kita mau main apa dulu nihhhh”.
“Kita main betengan dulu yukk, masalahnya betengan permainan yang masih sepi, gak ada yang ngantri. Eh lihat disana ada kelompok Denis kita lawan dia aja yuk, gimana setuju gak?”usul Khoir.
“Setuju-setuju,yuk cap cus…..”ajak Luluk.
“Ok…., kita
kalahin dia , heheheh” tertawanya Beti membuat kelompok Denis mengerut.
Kami
berlima menuju kelompok Denis
yang dari tadi kelompoknya masih berdiskusi dengan kak Fitri,kak Fitri itu
koordinator lomba betengan.
“Den kita main betengan yuk, kelompokmu lawan kelompokku, gimana setuju gak?”ajakku.
“Ok! tak masalah, yuk kita mulai permainannya”.
Kak
Fitri memberikan arahan sebelum kami memulai bermain. Setelah memberikan pengarahan kami pun
memulai permainan. Kak Fitri mengundi mana kelompok yang menyerang dan
diserang(yang memulai duluan), akhirnya kelompok denis yang maju duluan. Permainan
berlangsung seru,ditengah perjalanan permainan kami ternyata tak disangka ada
sesosok makhluk yang memotret kami. Dia berkacamata, cakep lagi dia bernama
Dimas, akrab di panggil mister jutek. Orangnya itu cuek, apa lagi kalau sama
cewek, cueknya ampun dah.
“Eeeh mas, kalau mau foto bilang dulu dong, kan bisa gaya
dulu”ucapku.
“Iya dong Dimas
kita kan bisa ngeksis “lanjut Luluk.
“Luk emangnya dia siapa?”.
“Dia itu namanya Dimas, mister
jutek”.
“Oooh Dimas namanya, loh kenapa di panggil mister jutek?”.
“Ialah dia itu kalau ketemu cewek apa
pernah nyapa”
“Oooh gitu”
“Coba deh lihat, waktu kita lagi nyapa dia malah dianya
sibuk dengan kameranya”
Dalam
hatiku yang paling dalam berkata” ahh
tipe-tipe aku banget, cobak
deh aku tes dia bisa senyum gak sama aku, hehe”.
“Hai kak dimas”.
“Cieeeeeeeeeee Mega loh” teriak teman-teman.
Dia
hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan kami sambil membawa kamera yang
dijinjing di tangannya. Kami
pun melanjutkan permaina, sampai kumandang adzan duhur. Matahari terus
menyingsing meninggalkan jejak-jejak sinarnya, hingga dia tak terlihat
lagi.Waktu persiapan untuk menunaikan shalat maghrib,usai shalat maghrib ada
panggilan untuk ku, yang pertama aku dapat panggilan dari salah seorang siswi
pondok, awalmulanya aku tak mengenalinya dan kucoba untuk menghampiri.
“Assalamualaikum”.
“Wa’alaikumsalam, ada apa kak? Sepertinya kakak memanggil saya?”.
“Iya kak ini saya Dian, ada bingkisan buat kakak dariku mohon
dibalas ya kak?”.
“Oooh ya allah iya, makasih ya dek. Kamu? aku kira siapa tadi, ya insya allah aku balas besok “.
“Terima kasih ya kak?”.
“Iya”.
Panggilan yang ke dua berasal dari sumber suara yaitu di
sekertariat. Aku pun mendatanginya ternyata persiapan untuk api unggun dan
pensi, ya allah ya tuhan ternyata tak terasa besok pulang, serasa aku tak ingin
meninggalkan pondok ini. Usai shalat isya’api unggun di mulai seusainya
dilanjutkan oleh pensi. Rasanya deg degkan ternyata aku satu-satunya wanita
yang tampil sendiri di panggung yang begitu lebar dengn membawakan puisi yang
berjudul “lumuran virus neraka” dengan irama musik yang menggentarkan suasana
malam itu. Tak ku sadari ternyata banyak orang yang melihat penampilan ku pada
saat itu. Terutama para dewan guru (Ustadz) dan kawan-kawan pondok yang datang
hanya ingin melihat penampilanku.Tak ku bayangkan mereka datang di saat aku mulai
tampil dimuka umum dan yang paling mengejutkan lagi serasa aku menjadi artis
semalam banyak potret kamera dimana-mana apa lagi kak Dimas yang sedari tadi
sudah siap dengan kameranya begitu pun kak Iwan. Gemuruh suara tepuk tangan
dimana-mana, rasanya keadaan yang seperti ini tak mungkin akan kulupakan begitu
saja. Apa lagi pertemuanku dengan teman-teman al-furqon, terutama untuk kak
Dimas dan juga Dian. Ternyata pertemuan itu membuatku masih teringat hingga
hari ini dan dimulai kemah dari al-furqon aku sekarang senang dengan pramuka
dan aku bermimpi bisa mengikuti jambore nasional,mudah-mudahan cita-citaku
terwujud. Amin.
Good, kembangkan..
ReplyDeleteok mas, minta bantuannya tpi yo heeee! salam sukses :)
ReplyDeleteok mas, minta bantuannya tpi yo heeee! salam sukses :)
ReplyDelete